berilmu, berakhlak,cantik

Kecantikan tak Abadi

Kecantikan tak Abadi

Matahari sudah tertelungkup dalam punggung bumi. Burung-burung sudah pulang kesinggahsananya. Pak Tani sudah pulang ke peraduan. Tubuh malam mulai hadir berlahan menutup permukaan bumi, berlahan hari mulai remang-remang. Di sebuah perempatan jalan kulihat sesosok yang sangat ku kenal. Terlihat wajahnya kusut, badannya penuh dengan peluh, dan bajunya lusuh. Nampak jelas letih dan hampa di raut mukanya. Benar, itu sahabat ku yang entah berapa tahun tidak pernah jumpa. Rekan SMA yang penuh semangat, energik, cerdas, bintang kelas dan banyak digandrungi kaum hawa. Berlahan aku pastikan dengan menghampiri dan menyapanya.

Setelah berbicara tentang berbagai hal akhirnya Dermawan (nama rekan saya) bercerita panjang lebar tentang rumah tangga barunya. “Sejak menikah dengan Dinda kami tinggal bersama orang tua Dinda (aku baru ingat, Dinda teman SMA cantik dan idola di skolah kami). Hampir dua tahun ini usia pernikahanku. Lahirnya si kecil tidak membuat rumah tanggaku bertambah bahagia, malah sebaliknya, semakin membuat kehidupan menyesakkan dada. Dinda semakin hari semakin menuntut berbagai hal. Penghasilanku sebulan sebagai guru honorer hanya cukup untuk seminggu. Ditambah lagi masalah-masalah yang timbul dari orang tua Dinda yang sering membandingkan dengan tetangga. Saya sudah berusaha mencari penghasilan lain mulai dari tukang ojek, sales buku, jual kue, dan berbagai jalan sudah aku coba namun semua tetap nihil. Kecantikan Dinda yang dulu menarik hatiku kini menjadi perempuan menyebalkan dan menakutkan karena selalu menuntut dan menuntut. Indahnya saat pacaran dulu ternyata tak terbawa saat kami menikah. Aku …..”. Belum sempat dia melanjutkan ceritanya tiba-tiba terdengar kumandang adzan magrib yang diiringi rintik hujan dari langit. Dengan berat hati saya mohon diri kepada Dermawan sambil menyempatkan menyampaikan kalimat “Dermawan Allah memberikan cobaan kepada hamba-Nya sesuai kemampuan hamba itu, jadi tetap bersabar, terus berusahan dan banyak-banyak berdo’a”.

Selang beberapa hari pertemuan ku dengan Dermawan, di HPku ada sebuah sms yang tak aku kenal nomornya. Sms itu berbunyai “Kata-katamu kemarin membuat aku berusaha menguatkan diriku. Namun sekarang kondisi ekonomi keluargaku sudah semakin parah, aku sudah tidak kuat lagi, aku ingin mengakhiri hidup ini. Dermawan”.

Hikmah :

Lebih hati-hati dalam memilih pasangan hidup, jangan mengutamakan fisik atau kecantikan saja (Utamakan  Agama dan Ahlaq)

Sebelum menikah faktor ekonomi juga perlu disiapkan.

Hindari budaya pacaran.

Artikel ini diikutkan dalam kontes unggulan cermin berhikmah.

Recent Posts :

16 responses

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam K.U.C.B
    Artikel anda akan segera di catat
    Salam hangat dari Markas New BlogCamp di Surabaya

    Januari 16, 2011 pukul 10:33 pm

    • matur sembah nuhun Pak Dhe

      Januari 17, 2011 pukul 10:46 pm

  2. hidup ini harus dijalani dengan tegar. Atas stempel komandan blogcamp JURI datang menilai. terima kasih atas cerita penuh hikmah. salam hangat

    Januari 17, 2011 pukul 2:56 am

    • terima kasih buat JURI ukhti Jumialely, semoga bermanfaat

      Januari 17, 2011 pukul 10:48 pm

  3. menarik sekali, sebuah pembelajaran hidup….salam kenal.

    Januari 17, 2011 pukul 10:01 am

  4. review buat pernikahan saya yng baru 1 bulan lebih hehe
    salam kenal dan sukses selalu ya

    Januari 20, 2011 pukul 1:03 am

  5. :):p

    Januari 21, 2011 pukul 8:14 am

  6. kecntikan, adalah makhluk.. yang pasti akan musnah…penuh imajinasi.. terimakasih… bales kunjungan ya ….. moga sukses sama2 kontesnya..

    Januari 21, 2011 pukul 3:58 pm

  7. waduh, aktornya mas dermawan, kayak judul postingan saya tuh…. hihihihihi (hakikat dermawan)

    Januari 23, 2011 pukul 1:35 am

  8. 😛

    Januari 26, 2011 pukul 11:32 am

  9. Apa kabar mba???

    datang berkunjung lagi, dan langsung ketemu postingan ini…

    _makin berbenah diri saya…🙂 _

    Februari 2, 2011 pukul 3:11 pm

    • wah, trnyata lama jg ya g masuk dunia blog. maaf nih br bsa bls komentnya. smga ke depan kita sama-sama selalu bsa berbenah

      April 29, 2011 pukul 12:31 pm

  10. aisyah

    wah, setuju bgt.
    pacaran”after” nikah.
    tanpa pacaran.
    utamakan akhlaknya, kalo akhlak baik,insyaAllah semua baik, termasuk agamanya.
    karena kita cari imam kan, bukan didunia aj, pi untuk akhirat…..selamanya

    Maret 17, 2011 pukul 11:29 am

    • siiip…ternyata masih ada jg ya di dunia ini yg setuju pacaran after nikah, soalnya itu jd hal yg tabu tuh di tengah masyarakat, aplg notabene muslim

      April 29, 2011 pukul 12:34 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s